Pada musim 2014-2015 ini seperti kita tahu pada Liga Champion babak 8 besar, tidak ada satu pun wakil dari Liga Inggis yang lolos pada fase ini, tiga wakil Inggris pada babak 16 besar KO semua. Ada yang bilang Liga Inggris isinya klub-klub medioker semua, makanya Liga Inggris bisa jadi liga yang paling kompetitif di muka bumi ini. Well, kabar buruknya, itu benar.
Tidak seperti liga-liga lain yang diisi oleh satu atau dua klub "wah" yang bisa lolos babak 8 besar liga champion. Ambil saja 3 wakil dari Liga Spanyol, Real Madrid, Barcelona dan Athletico Madrid. Dua dari klub tersebut merupakan klub monopoli. Kenapa monopoli? Well, karena memang benar, dua klub tersebut telah memonopoli Liga Spanyol. Mulai dari budget, komposisi pemain, dan juga kepelatihan. Mulai dari budget, kedua klub tersebut mempunyai dana yang bisa dibilang paling besar diantara penghuni liga lainnya. Dari budget yang "wah", maka bisa digunakan untuk membeli pemain-pemain terbaik di Spanyol maupun di dunia. Ada satu atau dua yang bersinar, langsung beli. Mudah kan? Ada pelatih bagus dan sudah terbukti, beli. Monopoli, satu kata untuk kedua klub di liga tersebut.
Ada juga klub-klub hasil monopoli seperti yang telah disebutkan di atas, seperti di Liga Italia, ada Juventus. Di liga Jerman, ada Bayer Munchen dan di Perancis ada Paris Saint Germain. Tak satu pun dari liga-liga tersebut yang bisa dibilang mempunyai liga yang kompetitif, karena setiap pekan bakal menjadi laga latihan bagi klub-klub pelaku monopoli tersebut. Begitu mudah, hingga energi yang dikeluarkan pun tidak terlalu besar untuk memperoleh sebuah kemenangan.
Berbeda dengan liga paling kompetitif di muka bumi, tidak ada klub hasil monopoli. Setiap klub mempunyai pemain-pemain handal yang siap untuk bermain setiap pekannya. Setiap pertandingan selalu tidak pasti, selalu memeras energi untuk memperoleh hasil imbang sekali pun. Mungkin inilah sebabnya tidak ada satu pun wakil dari Inggris yang bisa menembus babak 8 besar Liga Champion. Setiap pekan setiap klub di liga ini harus mengeluarkan kemampuan terbaik jika ingin bertahan pada level teratas liga. Setiap pekan merupakan pekan yang penting dan menguras tenaga. Belum lagi cedera yang mungkin dialami para pemain dalam setiap pertandingan yang tidak terduga. Hasilnya sudah bisa ditebak, kemampuan di Liga Champion tidak terlalu terlihat karena energi telah digunakan untuk melakukan pertandingan di liga paling kompetitif di muka bumi ini. Berbeda dengan pelaku monopoli, mereka hanya akan mengeluarkan kemampuan terbaiknya di Liga Champion. Itulah liga mereka yang sebenarnya, liga yang menguras energi, dimana di liga lokal para pelaku monopoli ini tidak terasa sebagai sebuah pertandingan, melainkan hanya latihan yang akan dengan mudah memperoleh kemenangan.
Kita lihat saja ke depan dimana financial fair play bisa diberlakukan dengan lebih ketat lagi demi menjaga iklim kompetisi di dunia persepakbolaan. Apakah klub-klub monopoli masih bisa bertahan? Apakah mereka masih bisa jumawa mengatakan bahwa liga mereka adalah liga terbaik? Atau mereka akan terdegradasi dan tak terdengar kabarnya lagi?
Mari kita sama-sama lihat kedepan seperti apa.
Salam olahraga.
No comments:
Post a Comment